Jumat, 20 November 2015

APLIKASI PROBIOTIK PADA BUDIDAYA UDANG VANAME SUPER INTENSIF

I   PENDAHULUAN


1.1     Latar Belakang
         Sektor perikanan memilki banyak komoditas yang bernilai ekonomis tinggi terutama udang dan merupakan salah satu komoditas penghasil devisa negara. Komoditi, ini dilaris baik dipasar domestik maupun dipasar internasional sehingga dari segi budidaya, budidaya perikanan memberikan banyak peluang yang sangat potensial untuk usaha dan wirausaha. Indonesia pernah mengalami masa keemasan dalam bidang budidaya udang yaitu pada pada waktu yaitu pada waktu udang windu masih mudah dipelihara.
         Seiring dengan kemajuan teknologi budidaya perikanan pada satu sisi dapat meningkakan produksi sektor perikanan, namun disisi lain, dengan padat tebar yang tinggi serta pemberian pakan yang berlebihan, menyebabkan pergeseran keseimbangan antara lingkungan udang yang pelihara dan patogen penyebab penyakit.
         Kerugian yang ditimbulkan akibat serangan suatu penyakit dapat berbentuk kematian, pertumbuhan yang lambat atau produksi menurun (bahkan bisa berhenti sema sekali). Udang pernah terserang penyakit bisa menjadi sumber penyakit, yaitu menjadi agen (perantara) terhadap timbulnya penyakit baru sehingga dapat berakibat fatal bagi usaha budidaya.
         Penyakit merupakan suatu keadaan dimana organisme tidak dapat mempertahankan keadaan normal, karena adanya gangguan fungsi fisikologi yang dapat disebabkan  oleh organisme fatogen maupun faktor-faktor lain.dengan demikian timbulnya serangan penyakit pada udang dapat disebabkan oeh organisme lain, sisa pakan maupun keadaan lingkungan.
         Pengendalian penyakit pada budidaya udang masih mengandalkan anstiseftik, desinfektan, sampai antibiotik. Namun, tingkat keberhasilannya sangat terbatas. Penggunaan antibiotik untuk pencegahan penyakit justru meningkatkan mikroba dan memacu resistensi pada beragam bakteri, sehingga untuk jumlah kasus penyakit pengendalian lebih sulit. Berdasarkan kekawatiran ini perlu adanya sistem pengelolaan terhadap kesehatan organisme yang dibudidayakan beserta lingkungannya yaitu penggunaan probiotik atau kontrol biologis.
         Penggunaan probiotik dalam budidaya terbukti dapat meningkatkan resistensi organisme yang dibudidayakan (udang) terhadap infeksi, karena itu pengguanaan probiotik merupakan merupakan salah satu cara preventif yang dapat mengatasi penyakit. Probiotik adalah mikroorganisme hidup sengaja dimasukkan kedalam tambak untuk memberikan efek menguntungkan bagi kesehatan udang.
         Melihat kenyataan diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan Pengalaman Kerja Praktik Mahasiswa (PKPM) di Tambak Supra Intensif PT. Esaputlii Prakarsa Utama Barru dengan judul Tugas Akhir  Penggunaan Probiotik pada  Pembesaran Udang Vaname (L. vannamei) di Tambak Supra Intensif.

1.2    Tujuan dan Kegunaan
         Tujuan penulisan tugas akhir dengan judul Penggunaan Probiotik pada  Pembesaran Udang Vaname (L. vannamei) di Tambak Supra Intensif PT. Esaputlii Prakarsa Utama Barru untuk menambah pengetahuan dalam penggunaan probiotik dan mengetahui reaksi probiotik pada pembesaran udang vaname.
         Kegunaan yang dapat diperoleh adalah untuk menambah wawasan tentang penggunaan probiotik sehingga nantinya pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam rangka membuka peluang usaha setelah menyelesaikan studi pada Jurusan Budidaya Perikanan, Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.














II   TINJAUAN PUSTAKA
2.1      Deskripsi Udang Vaname
         Udang vaname (L. vannamei) merupakan salah satu jenis udang yang memilki pertumbuhan cepat dan tidak rentang terkena penyakit, namun ukuran yang dicapai pada saat dewasa lebih kecil dibandingkan udang windu (Penaeus monodon), habitat aslinya adalah di perairan Afrika, tetapi spesies ini hidup dan tumbuh dengan baik di indonesia.  Dipilihnya udang vaname ini disebabkan beberapa faktor yaitu; (1) sangat diminati pasar Afrika, (2) lebih tahan terhadap penyakit dibanding udang lainnya,  (3) pertumbuhan lebih cepat dalam budidaya, (4) mempunyai toleransi terhadap paramater lingkungan (Haliman dan Adijaya, 2005).
         Udang vaname termasuk genus Penaeus, namun yang membedakan dengan genus Penaeus lain adalah mempunyai sub genus litopenaeus yang dicirikan oleh bentuk thelicum terbuka tapi tidak ada tempat untuk menyimpan sperma.  Ada dua spesies yang termasuk sub genus litopenaues yakni L. vannamei dan Litopenaeus stylirostris.
2.2      Klasifikasi Udang Vaname
         Menurut Wiban  dan Sweeny, 1991 menyatakan bahwa klasifikasi udang vaname adalah sebagai berikut :
Kingdom              : Animalia
Phylum                 : Anthropoda
Class                     : Crutasea
Sub Class                         : Malacostraca
Series                    : Eumalacostraca
Superorder           : Eucarida
Ordo                     : Decapoda
Sub Ordo            : Dendrobranchiata
Infra Ordo            : Panaeidea
Super Family        : Penaeioidea
Family                  : Penaeidea
Genus                   : Penaeus
Sub Genus            : Litopenaeus
Spesies                 : Litopenaeus vannamei

         Udang vaname termasuk crustase dalam ordo decapoda dimana di dalamnya juga termasuk udang, lobster dan kepiting. Dengan kata lain decapoda dicirikan mempunyai 10 kaki, carapace berkembang baik menutup seluruh kepala. Udang vaname berbeda dengan decapoda lainnya.

2.3    Morfologi
         Morfologi adalah bentuk atau bagian luar dari organisme.  Ciri – ciri khusus udang ini berbeda dengan lainnya yaitu penampakan luar berwarna putih transparan disertai warna agak kebiruan, (karena kromathopor dominan berwarna biru) yang terpusat pada bagian ekor dan kaki renangnya (Haliman dan Adijaya, 2005).
         Selanjutnya dikatakan, tubuh udang ini terbentuk dalam 2 cabang (biromous) yaitu exopodite dan endopodite.  Udang vaname (L. vannamei)  memiliki tubuh yang bungkuk dan aktifitas pergantian kulit (moulting) pada bagian tubuh sudah mengalami modifikasi sehingga dapat digunakan berbagai keperluan aktivitas. Morfologi udang vaname dapat dilihat pada Gambar 1.
 






Gambar 1. Morfologi Udang Vaname (L. vannamei)

2.4    Penyebaran dan Habitat
         Penyebaran dan habitat berbeda–beda tergantung dari persyaratan hidup dari tingkatan-tingkatan dalam daur hidupnya.  Pada umumnya udang vaname dapat ditemukan di perairan lautan Pasifik mulai dari Meksiko, Amerika Tengah, dan Selatan dimana temperatur perairan tidak lebih dari 20 ­­ºC sepanjang tahun.
         Udang vaname bersifat bentis dan hidup pada permukaan dasar laut, Adapun habitat yang disukai oleh udang adalah dasar laut lumer (soft) yang biasanya campuran lumpur dan pasir.  Hutan mangrove merupakan ekosistem yang sesuai bagi udang sebagai tempat perlindungan dan mencari makan (Trycahyo, 1995 dalam Naharuddin, 2008).
2.5    Siklus Hidup
         Udang vaname bersifat noctural, yaitu melakukan aktifitas pada malam hari.  Proses perkawinan ditandai dengan loncatan betina secara tiba-tiba.  Pada saat loncatan tersebut, betina mengeluarkan sel-sel telur.  Pada saat bersamaan, udang jantan mengeluarkan sperma sehingga sel telur dan sperma bertemu.  Proses perkawinan berlangsung sekitar 1 menit (Haliman dan Adijaya, 2005).
         Selanjutnya dikatakan, sepasang udang vaname dapat menghasilkan 100.000-250.000 butir telur yang menghasilkan telur yang berukuran 0,22 mm Siklus hidup udang vaname meliputi stadia nauplius, stadia zoea, stadia mysis, dan stadia postlarva.

2.6    Tingkah Laku dan Kebiasaan Makan
         Menurut (Haliman dan Adijaya, 2005), udang merupakan golongan hewan omnivora atau pemakan segala.  Beberapa sumber pakan udang antara lain udang kecil (rebon), fitoplankton, copepoda, polyhaeta, larva kerang, dan lumut.  Udang vaname mencari dan mengidentifikasi pakan menggunakan sinyal kimiawi berupa getaran dengan bantuan organ sensor yang terdiri dari bulu-bulu halus (setae) yang terpusat pada ujung anterior antenula, bagian mulut, capit, antena, dan maxilliped.  Untuk mendekati sumber pakan, udang akan berenang menggunakan kaki jalan yang memiliki capit.  Pakan langsung dicapit menggunakan kaki jalan, kemudian dimasukkan ke dalam mulut.  Selanjutnya, pakan yang berukuran kecil masuk ke dalam kerongkongan dan osephagus.  Bila pakan yang dikonsumsi berukuran lebih besar, akan dicerna secara kimiawi terlebih dahulu oleh maxilliped didalam mulut.

2.7    Komposisi dalam Penggunaan Probiotik
Ø  Vitamin
         Vitamin secara umum dikenal sebagai senyawa organik yang diperlukan dalam jumlah sedikit, tetapi sangat penting artinya untuk perbaikan, pertumbuhan, reproduksi dan kesehatan udang.  Beberapa jenis vitamin yang dibutuhkan udang antara lain; vitamin A, vitamin D3, vitamin E, vitamin K, vitamin B1, vitamin B12 dan vitamin C (Khairul dan Iskandar, 2008).

Ø  Dedak
         Bahan dedak ada 2, yaitu dedak halus (katul) dan dedak kasar. Dedak yang paling baik adalah dedak halus yang didapat dari proses penyosohan beras, dengan kandungan gizi: Protein = 11,35%, Lemak = 12,15%, Karbohidrat = 28,62%, Abu = 10,5%, Serat kasar = 24,46%,  Ai r= 10,15%, Nilai ubah = 8 dan dedak halus ini menyediakan karbodidrat bagi bakteri untuk tumbuh.
Ø  Molases
         Molases adalah salah satu hasil samping pabrik gula yang memiliki kandungan sukrosa sekitar 30 % disamping gula reduksi sekitar 25 % berupa glukosa dan fruktosa (Hadi, 2000). Molases merupakan sirup terakhir dari nira yang telah mengalami pengolahan di pabrik gula dan telah dipisahkan gulanya melalui kristalisasi berulang sehingga sudah tidak mungkin lagi menghasilkan kristal gula dengan cara kristalisasi konvensional. Molases biasanya dimanfaatkan sebagai bahan kultur bateri bacilus  sp selain itu juga sebagai bahan baku proses fermentasi dan isolasi bahan-bahan non-gula. Sukrosa dalam tetes tebu tidak dapat lagi dikristalisasi secara konvensional karena adanya pengotor dan viskositas tetes tebu yang sangat tinggi. Molasses dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan berbagai macam produk antara lain penyedap rasa, alkohol, pakan ternak dan lain-lain.
         Molases juga dapat digunakan sebagai media fermentasi dalam pembuatan biosurfaktan dan dapat digunakan pada saat meakukan pencampuran pakan sebelum ditebar i tambak yang merupakan makanan bagi bakteri bacillus sp yang ada ditambak. Penggunaan molases sebagai substrat dalam pembuatan biosurfaktan telah banyak diteliti. Menggunakan tetes tebu (molasses) sebagai sumber karbon menghasilkan biosurfaktan jenis rhamnolipid. juga telah berhasil menggunakan molasses untuk memproduksi biosurfaktan dan menunjukkan bahwa produksi biosurfaktan bertambah dengan meningkatnya konsentrasimolasses. (Nitschke, et al, 2004) telah berhasil memanfaatkan limbah cair tapioka (manipueira), whey susu, dan tetes tebu (molasses) sebagai substrat oleh B. Subtilis menghasilkan surfaktan yang mempunyai sifat lipopeptida, jenis surfaktin.

2.8    Cara Penggunaan Probiotik
          Probiotik adalah penggunaan mikroba hidup yang menguntungkan saluran pencernaan hewan untuk meningkatkan kesehatan inangnya. Jadi lebih difokuskan pada hewan/inangnya. Sejalan dengan kemajuan tehnologi, probiotik juga dimanfaatkan dalam akuakultur. Probiotik adalah penggunaan bakteri atau mikroba menguntungkan untuk meningkatkan kesehatan ekosistem tambak, kesehatan udang maupun meningkatkan sistem imun dari inang (udang) dan mengendalikan/menghambat mikroba patogen.
         Menurut (Poernomo, A, 2004) probiotik adalah mikroorganisme yang memiliki kemampuan mendukung pertumbuhan dan produktifitas udang. Penerapan probiotik pada udang selain berfungsi untuk meyeimbangkan mikroorganisme dalam pencernaan agar tingkat serapannya tinggi, probiotik juga bermanfaat menguraikan senyawa-senyawa sisa metabolisme dalam air . Sehingga probiotik dapat berfungsi sebagai bioremediasi, biokontrol, imunostimulan serta memacu pertumbuhan.
          Probiotik adalah mikroba yang merupakan bahan tambahan di perairan (Moriarty, 1998). Umumnya bakteri probiotik terdiri dari bakteri nitrifiying dan atau bakteri heterotrofik. Bakteri heterotrofik adalah bakteri yang mengkonsumsi oksigen untuk menghasilkan karbodioksida dan amoniak pada saat proses oksidasi. Sedangkan bakteri autrofik nitrtiying mengkonsumsi oksigen dan karbondioksida pada saat oksidasi amoniak dengan produk akhirnya nitrat.
          Penggunaan probiotik (kultur tunggal atau multikultur), antara lain meningkatkan kualitas air dan dasar tambak, meningkatkan kesehatan udang dan sebagai agent hayati (biological control agents) untuk mengendalikan berbagai penyakit pada tambak. Probiotik adalah mikroorganisme hidup non phatogen yang diberikan pada hewan untuk perbaikan laju pertumbuhan, efesiensi konsumsi ransum dan kesehatan hewan. Selain itu dijelaskan bahwa probiotik adalah feed additive berupa mikroba hidup menguntungkan yang mempengaruhi induk semang melalui perbaikan keseimbangan mikroorganisme dalam saluran pencernaan. Probiotik dapat berupa satu atau beberapa jenis mikroorganisme (mikroorganisme tunggal atau kultur campuran).
          Cara penggunaan probiotik adalah ; apabila diberikan di kolom air yang aerobik sebaiknya diencerkan dulu dengan air tambak, kemudian ditebar merata (untuk perbaikan kualitas air). Sedangkan apabila diberikan di dasar tambak, penggunaannya dicampur dengan subtrat pembawanya misal dengan zeolit, caranya tuang zeolit ke dalam bak plastik campur dengan probiotik, aduk hingga merata dan tebarkan campuran tersebut di tambak terutama dibagian yang banyak endapan lumpur. Probiotik dapat juga digunakan dengan dicampur dengan pakan buatan, keringkan sebentar lalu menebarkan pakan tersebut.

2.9    Pengaruh Pemberian Probiotik
         Pengaruh penggunaan probiotik adalah untuk aplikasi probiotik rutin dengan sistem sedikit ganti air mempunyai pH cenderung tinggi, NH3 dan H2S relatif rendah, kecerahan lebih pekat, suhu, salinitas, warna air, DO, pH, memenuhi kebutuhan hewan yang dibudidayakan. Penggunaan probiotik pada usaha budidaya ikan dan udang dapat mengurangi penggunaan bahan kimia dan antibiotik, berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan, FCR dan produksi ikan serta udang.
          Menurut (Simarmata, 2006) mekanisme penggunaan probiotik dalam meningkatkan kualitas air, kesehatan udang dan pengendalian secara biologis dapat diringkas sebagai berikut :
Ø  Menguraikan senyawa toksis (detoksifikasi) dalam ekosistem tambak, terutama NH3 , NO2- dan H2S dan menguraikan timbunan bahan organik dan detritus pada dasar tambak.
Ø  Antagonisme yaitu mikroba tersebut menghasilkan suatu senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan patogen.
Ø  Kompetisi yaitu mikroba probiotik berkompetisi dengan mikroba patogen dalam memanfaatkan faktor tumbuh.
Ø  Immunostimulan yaitu mikroba probiotik meningkatkan sistem imun dari inang atau organisme menguntungkan dalam ekosistem tambak.
Ø  Meningkatkan status nutrisi yaitu mikroba probiotik meningkatkan ketersediaan hara dan penguraian hara pada inang.
         Beberapa penelitian tentang penggunaan probiotik dalam budidaya udang antara lain; hasil penelitian Widanarni bertujuan mencari bakteri pembunuh yang alami. Ia menemukan adanya kompetisi antara Vibrio harveyi dengan bakteri probiotik. Kondisi ini terjadi saat Vibrio harveyi hendak melekatkan diri ke tubuh udang. Bakteri probiotik tersebut menurut Widanarti bisa diperoleh dengan cara menapisnya (screning) dari bakteri Vibrio juga, yang jenisnya adalah probiotik SKT-b kepanjangan dari Skeletonema. Dari hasil penelitiannya, diketahui bahwa kelangsungan hidup larva udang windu dengan penambahan probiotik SKT-b menjadi lebih besar (93%) dibandingkan tanpa SKT-b (68%). Penambahan probiotik SKT-b ternyata berhasil mengurangi populasi Vibrio harveyi di saluran pencernaan larva udang (Widanarti, 2005).
         Sementara itu (Murtiati dkk, 2006) melakukan penelitian tentang penggunaan probiotik pada udang galah menjelaskan bahwa kolam perlakuan dengan biokatalisator ikan bandeng dan probiotik EM4 (B) maupun MBPI (C) memberikan pengaruh yang baik pada peningkatan kadar oksigen terlarut, yaitu pada kolam perlakuan ikan bandeng dan EM4 konsentrasi tertinggi mencapai 8,24 mg/l dan pada kolam perlakuan ikan bandeng dan MBPI 5,89 mg/l.  Pada penelitian yang sama diketahui juga bahwa dengan penggunaan probiotik dapat menurunkan konsentrasi kandungan ammonia dan nitrit pada dasar tambak.
         Lingkungan yang bersih bebas dari timbunan sisa-sisa penguraian bahan organik (Ammonia, nitrit dan asam sulfida) serta kaya akan oksigen akan sangat membantu pertumbuhan udang dan menjaga kesehatan udang selama pemeliharaan. Tehnik aplikasi penggunaan probiotik dalam budidaya udang biasanya dilakukan pada saat persiapan lahan. Setelah pemberian probiotik pada saat persiapan lahan maka probiotik dapat kembali diberikan setelah benur ditebarkan, dan sebaiknya diberikan secara rutin.
2.10  Penggunaan Probiotik  pada Parameter Kualitas Air
          Menurut (Murtiati et al, 2006) melaporkan bahwa penggunaan probiotik memberikan pegaruh yang cukup baik dibandingkan dengan kontrol (tanpa probiotik) terhadap kondisi kaulitas air serta mampu mendukung pertumbuhan udang vaname. Hal yang sama juga diperoleh pada penelitian (Badjoeri dan Widianto, 2008) bahwa penelitian bakteri nitrifikasi denitrifikasi berpengeruh positif terhadap perbaikan kondisi kuaitas air ditambak, pertumbuhan, dan produksi udang vaname. Konsentrasi kualitas air yang tidak stabil akan berpengaruh besar bagi udang vaname. Oleh karena melihat kenyataan ini maka dengan adanya penggunaan probiotik membantu petambak dalam memperbaiki kualias airnya.
2.11  Peranan Probiotik dalam Budidaya
        Peranan bakteri probiotik sebagai kontrol biologis pada sistem budi daya adalah (1). Menekan pertumbuhan bakteri patogen (2.) Mempercepat degradasi bahan organik dan limbah (3). Meningkatkan ketersediaan nutrisi esensial (4). Meningkatkan aktivitas mikroorganisme indigenus yang menguntungkan pada tanaman, misal Mycorriza, Rhizobium dan bakteri pelarut pospat. (5). Memfiksasi nitrogen (6.) Mengurangi pupuk dan pestisida.
         Bahan organik ini dapat digunakan secara langsung oleh fitoplankon dalam air untuk kelangsungan hidupnya. Fitoplankton makanan bagi zooplankton, sehingga jumlahnya melimpah. Hal ini menyebabkan perairan tersebut menjadi subur. Zooplankton merupakan pakan alami bagi sebagian besar larva ikan, termasuk larva. Dengan demikian maka ketersediaan pakan alami bagi ikan akan tetap terjaga.
         Pemberian probiotik melalui lingkungan (air dan dasar tambak) bertujuan Memperbaiki serta mempertahankan kualitas air dan dasar tambak, mengoksidasi senyawa organic sisa pakan, kotoran udang, plankton dan organisme mati, menurunkan senyawa metabolit beracun (ammonia, nitirt , H2S), mempercepat pembentukan dan kestabilan plankton, menurunkan pertumbuhan bakteri yang merugikan, penyedia pakan alami dalam bentuk flok bakteri dan menumbuhkan bakteri pengurai. Sedangkan pemberian bakteri melalui pakan bertujuan : Menyeimbangkan fungsi usus sehingga mampu menekan bakteri yang merugikan, menghasilkan enzim yang membantu sistem pencernaaan makanan, mengandung protin yang dapat dimanfaatkan oleh ikan dan udang yang memekannya, dan meningkatkan kekebalan tubuh udang dan ikan.
         Probiotik dapat dibagi 2 kelompok yaitu ; bentuk cair merupakan mikroba dalam bentuk suspensi (inokulan tunggal maupun multikultur) antara lain Lactobacillus, Bacillus sp, Nitrobacteria dan bentuk padat yaitu mikroba diinokulasi (tunggal atau multikultur) dalam media carier. (Simarmata, 2006).
Hubungan Kondisi Di Tambak dengan Jenis Bakteri Probiotik:
Ø  Bagian Atas air dalam kondisi aerob kelompok bakteri aerob
Ø  Bagian Dasar Tambak Air umumnya kekurangan Oksigen (Anaerob) kelompok bakteri anaerob 
Ø  bakteri pengendali pertumbuhan plankton.

III   METODOLOGI

3.1.    Waktu dan Tempat
         Tugas akhir ini disusun berdasarkan hasil kegiatan Pengalaman Kerja Praktik Mahasiswa (PKPM) yang dilaksanakan selama bulan Februari sampai  Mei 2015 di Tambak Supra Intensif PT. Esaputlii Prakarsa Utama Barru.

3.2.    Metode Pengumpulan Data
         Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

3.2.1   Data Primer
         Data primer diperoleh dengan cara mengamati, menghitung, atau mengukur secara langsung pada saat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan aplikasi probiotik dan wawancara langsung dengan pembimbing lapangan.

3.2.2   Data Sekunder
         Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran literatur dan pustaka yang relevan dengan  judul Tugas Akhir sebagai penunjang dari data primer.

3.3    Analisa Data  
Ø  ADG (Average Daily Gain) adalah Pertambahan berat harian dengan rumus ADG (g/hari) : MBW (g)2-MBW (g)1
                                                       DOC
Ø  Biomassa adalah Jumlah total berat udang yang ada di tambak (kg) dengan rumus Biomassa (kg): pupulasi (ekor) x MBW (g)
                                                                               1000
Ø  ABW (Average Body Weight) ABW adalah Berat rata rata udang/ekor dengan rumus ABW (g): biomassa (kg)
                           Populasi (ekor)
Ø  FCR (Feed Convertion Ratio) adalah Perbandingan antara jumlah pakan yang digunakan dengan berat udang yang dihasilkan dengan rumus
Jumlah pakan yang habis (Kg)
Biomassa udang (kg).
Ø  Size :1000
  MBW
Ø  SR (Survival Rate) adalah Tingkat kelangsungan hidup udang dengan rumus SR : Jumlah udang yang hidup (kg) x 100%
Jumlah tebar


3.4     Alat dan Bahan
3.4.1 Alat
         Dalam kegiatan pembesaran udang vaname di PT. Esaputlli Prakarsa Utama Barru secara supra intensif ini perlu ditunjan dengan peralatan yang relevan  yang akan digunakan untuk budidaya agar membantu berjalanya suatu kegiatan pembesaran udaang vaname. Alat merupakan  sesuatu yang digunakan dari kegiatan persiapan lahan sampai pada kegiatan akhir budiaya udang (panen).  Peralatan yang digunakan selama pemeliharaan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Alat yang digunakan selama pemeliharaan udang vaname pada     tambak intensif PT. Esaputli Prakarsa Utama Barru.
No
Alat
Spesifik
Kegunaan
1.
Tambak
6.000 m2
Sebagai wadah budidaya
2.
Jala lempar
2 meter
Digunakan dalam pengambilan sampling
3.
Kincir
1 Hp
Digunakan untuk mengsuplai oksigen
4.
Ember dan gayung
-
Sebagai tempat pakan dan pengaporitan
5.
Anco
-           
Digunakan untuk mengontrol pakan dan kesehatan
6.
Pipa Paralon
8 inch
Untuk mendistribusi air ke saluran Prime, Sekunder, dan Tersier
7.
Do Meter
-
Digunakan  untuk mengukur oksigen terlarut dan suhu
8.
pH meter
-
Digunakan untuk mengukur pH tanah tambak
9.
Hand refractometer
-
Digunakan untuk mengukur salinitas
10.
Timbangan
-
Digunakan untuk menimbang pakan
11.
Jaring kondom, Karung, Papan Tarik, dan tali
-
Digunakan yang digunakan untuk memanen udang
12.
Seser
-
Digunakan untuk pengangkatan lumut
13.
Aerator
-
Digunakan untuk pengaktifan probiotik
14.
Timbangan
-
Untuk menimbang pakan
15.
Keranjang / Basket
-
Digunakan untuk tempat udang
16.
Pompa
-
Digunakan untuk pengisian dan pengeluaran air
17.
Genset
-
Digunakan untuk penghasil listrik
18.
Papan
80 cm
Sebagai dinding pada pintu monik
19.
Batu, Pasir, dan Semen
-
Sebagai pembuat pintu monik
20.
Patok, obeng, palu, dan kabel
-
Sebagai pembantu dalam setting kincir


4.2.2 Bahan
         Bahan adalah sesuatu yang digunakan yang habis pakai.  Adapun bahan yang digunakan selama pemeliharaan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Bahan yang digunakan selama pemeliharaan udang vaname pada tambak Intensif PT. Esaputlii prakarsa utama barru

Bahan

Kegunaan
1.
Udang vaname
800.000
Organisme yang dibudidayakan
2.
Kapur dolomit (CaMg(CO3)2)
-
Meningkatkan alkalinitas
3.
Kapur kaptan (CaCO3)
-
Meningkatkan pH air
5.
Probiotik(aquazym)
-
Menguraikan bahan organik pada tambak dan memperbaiki kualitas air
8.
Molases
-
Sebagai bahan probiotik untuk penumbuhan bakteri yang dikultur
9.
Kaporit
-
Menetralisir air
10.
Pakan buatan
-
Sebagai pakan udang dalam proses pemeliharaan
11.
Saponim
-
Membunuh hama (ikan) yang ada dalam tambak


3.3        Prosedur Kerja
         Prosedur kerja penebaran probiotik bacillus sp pada pada pembesaran udang vaname di tambak supra intensif adalah sebagai berikut :
Ø  Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan
Ø  Drum di isi dengan air
Ø  Molases dimasukkan kedalam teco kemudian dimasukkan agi kedalam drum
Ø  Timbang aquazym lalu dimasukkan kedalam drum,
Ø  Kemudian timbang susu bubuk lalu masukkan kedalam drum
Ø  Aduk secara merata
Ø  Aerasi dimasukkan dalam drum
Ø  Ketika air hampir penuh, kemudian ditutup dengan karung bekas dan di ikat dengan karet.
Ø  Setelah kultur dilakukan selama 24 jam, penebaran dilakukan dalam wadah budibaya.
          Prosedur kerja penebaran probiotik lactobacillus sp pada pada pembesaran udang vaname di tambak supra intensif adalah sebagai berikut :
Ø  Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan
Ø  Drum di isi dengan air
Ø  Molases dimasukkan kedalam teco kemudian dimasukkan agi kedalam drum.
Ø  Timbang power lac lalu dimasukkan kedalam drum, kemudian timbang sodium  lalu masukkan kedalam drum plastik
Ø  Lalu diaduk secara merata, aerasi dimasukkan dalam drum
Ø  Ketika air hampir penuh, kemudian ditutup dengan karung bekas dan di ikat dengan karet.
Ø  Setelah kultur dilakukan selama 24 jam, penebaran dilakukan dalam wadah budibaya
          Prosedur kerja penebaran probiotik (fermentasi) sp pada pada pembesaran udang vaname di tambak supra intensif adalah sebagai berikut :
Ø  Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan
Ø  Air dari wadah tambak di timbah, kemudian dimasukkan kedalam drum
Ø  Dedak dimasukkan kedalam drum, kemudian ditambahkan molases
Ø  Setelah itu ditambahkan lagi fermipan, kemudian aduk secara merata
Ø  Drum yang sudah aduk ditutu dengan karung bekas kemudian di ikat dengan karet ban
Ø  Setelah 24 jam dikultur fermentasi ditebar kewadah budidaya udang


















IV    HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1    Pertumbuhan Populasi Bakteri
         Hasil pengamatan pertumbuhan bakteri menguntungkan dan bakteri vibrio sp yang diperoleh selama budidaya pembesaran udang vaname secara supra intensif pada tambak beton dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Pertumbuhan populasi bakteri menguntungkan dan bakteri vibrio sp
Umur Udang
Bakteri Menguntungkan (cfu/ml)
Bakteri Vibrio Sp (cfu/ml)
Perisiapan
4000
510000
Persiapan
260000
9700
4 hari
220000
2200
11 hari
410000
23000
18 hari
650000
10
25 hari
130000
310
32 hari
17000
260
39 hari
17000
10
46 hari
7000
310
53 hari
95000
950
60 hari
8000
240
67 hari
120000
2300
74 hari
36000
1500
81 hari
150000
3700
88 hari
110000
2600
95 hari
94000
3800
102 hari
6000
3000
Sumber : PT. Esaputlii Prakarsa Utama Barru
         Kepadatan populasi bakteri vibrio sp terhadap udang vaname ditamabak supra intensif adalah 10-510.000 cfu/ml. Pada awal persiapan, kepadatan popuasi vibri sp tinggi di sebakan awal pemeliharaan penebaran probiotik masih kurang unuk menekan pertumbuhan vibrio sp (tabel 3). Kisaran kepadatan vibrio sp yang optimal bagi budidaya udang adalah 101 cfu/ml (Sumarwan, 2009). Keberadaan bakteri vibrio  sp harus dikontrol karena organisme ini patogen yang meyebabkan penyakit vibriosis pada udang, untuk menekan bakteri vibrio  pada budidaya maka dilakukan penebaran probiotik setiap hari. Pertumbuhan bakteri menguntungkan  selama pemeliharaan dengan kepadatan 4000-410.000 cfu/ml. Hal ini menunjukkan kondisi normal suatu budidaya udang terhadap penekanan bakteri vibrio sp keberadaan bakteri non patogen seperti bacillus sp sangat berperan penting dalam mempercepat proses penguraian bahan organik dalam tambak dan membantu menyediakan pembentukan nutrien bagi plakton serta mampu menjaga kualitas air lingkugan tambak dan kandungan bakteri bacillus sp yang baik bagi udang  adalah 109 cfu/ml (Sumarwan, 2009).

4.2    Pengaruh Pemberian Probiotik Terhadap Produktivitas
         Produksi udang vaname yang diperoleh selama budidaya pembesaran udang vaname secara supra intensif pada tambak beton dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Produksi Udang Vaname pada Tambak Budidaya
Luas (m2)
Jmlh tebar (ekor)
Total panen
Bobot (g)
Size (ekor/kg)
SR (%)
Biomassa (kg)
Jmlh pakan(kg)
FCR
2.300
800.000
16,843
15,07
66,357
86
12,056
24,522
1,45

Sumber : PT. Esaputlii Prakarsa Utama Barru
         Produktivitas tambak yang diperoleh menunjukkan bahwa SR sebesar 86 % dengan FCR 1, 45. konversi pakan atau food convertion ratio (FCR) udang vaname sebesar 1,3-1,4 (Supono, 2008). Kandungan protein untuk udang vaname relatif lebih mudah dibandingkan udang windu. Udang vaname  membutuhkan pakan dengan kadar protein 20-35%, dengan menggunakan pakan berkadar protein rendah maka biaya untuk pembelian pakan lebih kecil sehingga dapat menekan biaya produksi.
         Sebagaimana yang diketahui pakan yang digunakan dalam budidaya udang memiliki kandungan protein tinggi. Pakan yang diberikan tidak seluruhnya mampu diasimilasi oleh tubuh udang. Hanya sebagian saja yang mampu diasimilasi kedalam tubuh sedangkan sisanya terbuang keperairan dalam bentuk sisa pakan dan buangan metabolisme. Sisa pakan dan buangan metabolisme itu menjadi suatu masalah pada tambak udang karena unsur protein yang terlarut akan segera membentuk amoniak yang berbahaya bagi organisme yang dibudidayakan khususnya udang vaname sehingga aplikasi probiotik rutin dilakukan untuk menguraikan sisa-sisa pakan yang tidak termakan oleh udang .
         Salah satu jenis probiotik yang digunakan dalam budidaya pembesaran udang vaname di tambak supra intensif adalah jenis bacillus sp. Bakteri ini adalah salah satu bakteri yang mampu membentuk bioflok. Bacillus sp memiliki banyak manfaat terutama dalam menghasilkan berbagai enzim, seperti enzim amilase dan enzim protease, termasuk subtilisin. Berkembangnya bakteri bacillus sp disertai dengan berkembangnya bakteri nitrifikasi sehingga mampu mengurangi amoniak (NH3) yang ada didalam tambak. Bakteri nitrifikasi berperan mengubah amoniak menjadi nitrit sehingga mampu mengatasi akumulasi bahan organik dan amoiak dalam air.
         Penyedian pakan alami dalam bentuk flok bakteri dan menumbuhkan bakteri pengurai. Sedangkan pemberian bakteri bacillus sp bertujuan meyeimbangkan fungsi khusus sehingga mampu menyeimbangkan bakteri yang merugikan menghasilkan enzim untuk membantu pencernaan makanan, mengandung protein yang dapat dimanfaatkan oleh udang dan memakannya. Dan meningkatkan kekebalan tubuh udang. Melalui cara ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas air serta penggunaan pakan dengan baik dan pergantian air pada tambak.
4.3    Pengaruh Pemberian Probiotik Terhadap Parameter Kualitas Air
         Hasil analisa parameter kualitas air (kimia) yang diperoleh selama budidaya udang vaname secara supra intensif pada tambak beton dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Hasil Analisa Parameter Kualitas Air (Kimia)
Parameter Kimia
Nilai Parameter (ppm)
Nilai Optimal (ppm)
Bahan Organik
67,300-294,070
55-100 (Adiwijaya, 2003)
Nitrit (NO2)
0,001-5,100
<9-0,3 (Sulistinarto, 2008)
Nitrat (NO3)
0,024-7,850
0,05-1,0 (Boyd, 2002)
Amoniak (NH3)
0,0000,-0,151
0,05-0,1 (Adiwijaya, 2003)
Sumber : PT. Esaputlii Prakarsa Utama Barru.

4.3.1 Bahan Organik
         Kandungan bahan organik yang diperoleh selama budidaya udang vaname ditambak supra intensif menunjukkan kisaran 67,300-294,070 ppm yang dapat dilihat pada tabel 5. Kandungan bahan organik yang baik bagi udang adalah 55-100 ppm (Adiwijaya, 2003). Apabila bahan organik tinggi maka dapat menjadi senyawa yang bersifat racun bagi udang. Hal ini dapat disebabkan karena adanya sisa pakan yang tidak dikonsumsi, feses udang, kematian plankton, tanaman air dan bahan organik yang masuk pada saat penambahan air. Untuk mengantisifasi bahan organik terlalu tinggi pada budidaya udang vaname dilakukan penebaran probiotik secara berkala 2 hari sekali. Dengan adanya probiotik maka proses degradasi bahan organik pada dasar tambak lancar sehingga menghasilkan zat-zat yang bermanfaat bagi pertumbuhan plankton. Bahan organik yang mengalami mineralisasi oleh jasa pengurai (probiotik) akan di ubah menjadi anorganik seperti nitrat dan fosfat. Bahan anorganik ini dapat digunakan secara langsung oleh fitoplankton dalam air untuk kelangsungan hidupnya.
4.3.2 Nitrit (NO2)
         Kandungan nitrit dalam budidaya pembesaran udang vaname dalam tambak supra intensif menunjukkan nilai 0,001-5,100 ppm dan dapat dilihat pada tabel 5. Kandungan nitrit yang optiml bagi udang <0,3 ppm, agar tidak membahayakan bagi budidaya udang. Percepatan pross perombakan nitrit menjadi nitrat yang tidak berbahaya udang dapat dilakukan dengan cara menambahkan secara langsung probiotik lactobacillus sp. Dapat pula dengan peningkatan kadar oksigen dalam air dengan cara mengoptimalkan pengoprasian gincir. Kandungan nitrit pada budidaya udang tidak normal dan mempengaruhi tingkat kelangsungan udang yang dibudidayakan. Hal ini terlihat dari hasil produksi udang sebesar 16,843 dan dapat dilihat dari panen.
4.3.3 Nitrat (NO3)
         Kandungan nitrat dalam budidaya pembesaran udang vaname dalam tambak supra intensif menunjukkan nilai 0,024-7,850 ppm dan dapat dilihat pada tabel 5. Hal ini dipengaruhi kandungan nitrit yang terlalu tinggi selama proses budidaya, sejalan dengan kondisi perairan dengan air media budidaya selam pemeliharaan. Kandungan nitrat dalam budidaya yang optimal 0,25-1,0 ppm (Boyd, 2002). Kelebihan nitrat dapat berpengaruh bagi pertumbuhan fitoplankton menjadi tidak stabil dan didominasi oleh makro alga (ganggang dan lumut) sehingga menganggu proses budidaya.

4.4.4 Amoniak (NH3)
         Amoniak (NH3) merupakan produk akhir utama dalam peecahan protein pada budidaya udang organisme akuatik lainnya. Udang mencerna protein  pakan dan mengekskresikan amoniak melalui feses. Jumlah amoniak diekskresikan oleh udang bevariasi, tergantung jumlah pakan yang ditebar dalam tambak akibat dekomposisi bahan organik seperti dekomposisi pakan dan bahan lainnya. Kandungan amoniak dalam air pada budidaya udang vaname ditambak supra intensif 0,0000,-0,151 ppm (tabel 5). Hal ini menunjukkan kandungan amoniak selama pemeliharaan normal, sesuai pendapat (Adiwijaya, 2003) bahwa konsntrasi amoniak ditambak ang masih normal adalah 0,05-0,1 ppm. Senyawa ini sangat beracun bagi organisme perairan walaupun dalam konsentrasi rendah ditekan dengan cara pengendalian pH yang optimal dan disuplai oksigen yang cukup seta pengendalian parameter lainnya. Pengololan air dan pemberian probiotik secara rutin dapat menekan laju peningkatan amoniak dalam air.







V   PENUTUP

5.1    Kesimpulan
         Berdasarkan hasil Pengalaman Kerja Praktik  Mahasiswa (PKPM)  di tambak Supra Intensif PT. Esaputlii Prakara Utama Barru maka disimpulkan bahwa:
1)   Penggunaan probiotik  meliputi komposisi dalam penggunaan probiotik, cara penggunaan probiotik,  pengaruh pemberian probiotik,  penggunaan probiotik pada parameter kualitas air dan peranan probiotik dalam budidaya.
2)    Pertumbuhan bakteri menguntungkan  selama pemeliharaan dengan kepadatan 4000-410.000 cfu/ml dengan kepadatan populasi bakteri vibrio sp terhadap udang vaname ditamabak supra intensif adalah 10-510.000 cfu/ml.
3)    Produktivitas tambak yang diperoleh menunjukkan bahwa SR sebesar 86 % dengan FCR 1, 45 dengan melalukan pengamatan Parameter Kualitas Air (Kimia).
5.2     Saran    
         Melihat penerapan tehnologi probiotik yang sederhana maka disarankan untuk dapat diterapkan oleh para pembudidaya udang sebagai usaha pencegahan secara biologis terhadap serangan penyakit. Saat ini probiotik dalam usaha budidaya telah tersedia secara komersial, tetapi informasi yang secara ilmiah dianggap memadai belum tersedia. Kondisi inilah menyebabkan kesenjangan antara pelaksanaan di lapangan dengan landasan ilmiah yang mendukungnya.
DAFTAR PUSTAKA

Adiwijaya, 2003. Budidaya udang vaname (litopenaeus vannamei ). Sistem Tertutup Yang Rama Lingkungan. Depertemen Kelautan dan Perikanan. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau. Jepara, 29 hlm
Boyd, C. E. dan B.W. Green. 2002. Coastal Water Quality Monitoring in Shrimp Farming Areas, An Example from Honduras. World Bank, NACA, WWF and FAO Consortium Program on Shrimp Farming and the Environment. 29 h.Briggs, M., S. Funge-Smith, R. Subasinghe and M. Philips, 2004. Introductions and movement of Penaeus vannamei and Penaeus stylirostris in Asia and the Pacific. FAO Regional Office for Asia and the Pacific. Bangkok.
Supono,  2008. Produktivitas Udang Vaname, Kelautan dan Perikanan. Bandung
Badjoeri, M. dan Widiyanto, T, 2008. Pengaruh pemberian konsersium bakteri terhadap kondisi kualitas air ditambak dan pertumbuhan udang vaname
Hadi, 2000. Pembuatan Molases dengan Sistem Terbaru untuk Budidaya Udang Vaname, Jevara.
Haliman, Mo, S.B, 2003. Mutu induk dan Benih Udang Litopenaeus vannamae Yang Baik. Balai Besar Riset Perikanan. Budidaya Laut, Gondol-Bali.
Haliman dan Adijaya, 2005). Udang Vaname. Pembudidayaan dan Prosfek Udang Putih yang Tahan Penyakit. Penebar Swadaya. Jakarta, 75 hlm.
Kordi.K dan Ghufron., 2010. Pakan Udang. Akademia, Jakarta.
Moriarty, 1998. Microbial Biosystem ; New Frontiers’ In: Bell C. R (Editor). Proceeding Of The 8 Th Internasional Symposium On Microbial Ecologi. Canada.
Murtiati dkk,  2006. Aplikasi Probiotik pada Pembesaran Udang . Jurnal Budiday Sukabumi, 3 (1): 1-7.
Nitschke, et al. 2004. Pemanfaatan Probiotik Yang Ramah Lingkungan. Jurnal Budidaya, Jakarta
Poernomo, A. 1988. Pembuatan Tambak Udang di Indonesia, Departemen Pertanian, Balit. Perikanan Budidaya Pantai, Maros. 40
hal.
Purnomo ,A. 2003 . Seminar Evaluasi Perkembangan udang Vannamei. BBAP
Situbondo.
Poernomo, A, 2004. Technology of Probiotics to solve the problem in shrimp pond culture and the culture environment. Paper presented in the National Symposium on Develeopment Scienticfic and Technology Innovation Aquaculture, January 27 – 29, 2005. Patrajas Hotel, Semarang.
Diakses: 13/07.2015
Simarmata, Tualar, 2006. Revitalisasi Ekosistem Tambak Dengan Pemanfaatan Tehnologi Bioremediasi dan Probiotik, Makalah Pada Seminar Tehnologi Bioremediasi dan Probiotik, Banyuwangi.
Sulistinarto, 2008. Pengelolaan Kualitas Air, julnal Budidaya. Jawa Tengah.
 Naharuddin., 2008. Teknik Pembuatan Pakan dan Budidaya Pakan Alami. Universitas Islam Indragiri, Jawa Tengah.
Widanarti, 2005. Penapisan Bakteri Probiotik untuk Biokontrol Vibriosis pada Larva Udang Windu: Konstruksi Penanda Molekuler dan Esei Pelekatan,
Diakses: 13/07.2015

Wiban  dan Sweeny, 1991. Budidaya Udang Vanmae (Litopenaeus vannamei) Teknologi Ekstensif Plus. Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah. 2009.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar