Jumat, 20 November 2015

BIOSECURITY UDANG

BIOSECURITY UDANG 

ABSTRACT

            Perlindungan pertambakan udang terletak pada kemampuan untuk mengontrol agen penyakit yang sangat patogenis. Pencegahan beberapa penyakit menghendaki protokol/petunjuk yang ketat, rencana kesehatan udang keseluruhan dan program pengawasan peringatan dini. Perlindungan pertambakan dapat juga dilakukan dengan pengetahuan yang cermat mengenai cara atau alur introduksi patogen. Kemungkinan patogen berbahaya yang menginfeksi udang (benur atau induk). Inang-inang di reservoir atau carier pasive dari patogen. Pasive carier meliputi predator yang memungkinkan membawa udang terinfeksi, kendaraan yang terkontaminasi atau air yang mengandung patogen yang tidak disterilisasi.

PENGANTAR         

Biosecurity dihubungkan dengan kegiatan untuk mengurangi kemungkinan kontaminasi patogen dan berikut penyebarannya. Beberapa kegiatan ditujukan untuk mengeluarkan patogen. Dua kondisi yang memungkinkan pengeluaran patogen dapat berjalan. Pertama, tingkat serangan kebanyakan patogen terhadap udang ( budidaya ataupun liar) tidak 100 %, yaitu keberadaan udang yang bebas dari spesifik patogen . Kedua, patogen dipindahkan dari satu tempat ketempat lain, jadi secara prinsip patogen dalam kodisi bebas dapat di jaga. Untuk bergunanya pandangan ini perlu metoda yang dapat dipercaya untuk mendeteksi patogen dan pengetahuan yang cukup dari biologi patogen untuk keberhasilan penghilangannya.  Sebab dua kondisi diatas dapat dilak,ukan biosecurity dapat dilakukan untuk manajemen penyakit termasuk pengeluaran. Kenyataannya, dibanyka lokasi biosecurity tidak hanya mungkin tetapi harus dalaksnakan unutk  keberhasilan budidaya udang.

BIOSECURITY

            Patogen dapat masuk ke areal pertambakan  atau ke kolam dapat melalui udara, air maupun tanah. Kemungkinan masuknya patogen ke areal pertambakan antara lain; (1). Inang yang terinfeksi, dimana patogen berkembang dudalam tubuhnya,(2). Carrier biologis yang bukan inang, termasuk disini adalah predator yang memakan udang terinfeksi atau membawanya tapi ianya tidak menadi inang dari patogen yang menginfeksi udang, contohnya adalah burung camar dan serangga dan (3). Sesuatu objek yang terkontaminasi patogen, meliputi air, kendaraan , keranjang dan pakaian.
Virus Taura  diketahui dapat bertahan dalam saluran pencernaan burung camar (Garza et al. 1998). Penyebaran melalui kotoran ini menghasilkan penyebaran yang lebih luas dibandingkan dengan penyebaran udang terinfeksi dengan mulut. Hal ini karena burung dapat bermigrasi ratusan mile dalam beberapa hari dan menyimpan virus didalam ususnya. Ini menjadi peringatan bagi petambak yang mempunyai kolam terbuka untuk dapat menghidari kontaminasi dari udara. Diantaranya sebisa  mungkin memilih lokasi tambak yang jauh dari pertambakan lain.
Penghalang secara fisik dari jalur kontaminasi ini meliputi menutup seluruh permukaan kolam atau memelihara udang di tempat tertutup (Indoor system). Ini akan mahal dan mungkin tidak dapat diimplementasikan dalam industri budidaya udang. Bagaimanapun, dalam beberapa kasus kerugian dari penyakit udang bisa berarti kecuali kalau implementasi penutupan peemukaan kolan tidak menguntungkan. Beberapa negara sangat ketat dalam mengimpor produk udang yang mengandung agen terinfeksi dan tanpa skala keamanan untuk mencegah kontaminasi  pasar dimana harga menjadi turun meski udang terinfeksi dapat dipanen. Disain biosekuriti ideal untuk fasilitas budidaya adalah menutup fasilitas budidaya dan menggunakan kembali air budidaya. Sistem ini telah digunakan pada tingkat komersial pematangan dan reproduksi Litopenaeus vannamei  (Lotz and Ogle,1994). Walaupun pematangan komersial dan pemeliharaan larva tidak sepenuhnya mengadopsi system resirkulasi, umumnya tertutup dan beberapa mensirkulasi sampai 75 % per hari.
Penutupan fasilitas budidaya pada skala komersial tidak banyak dilakukan, bagaimanapun, budidaya udang tanpa pergantian air sedang dikembangkan. Ogle and Lotz (1992) melaporkan pertumbuhan Litopenaeus vannamei dalam resirkulasi total pada skala  eksperimen, publikasi terbaru dari Moss(1998) memperlihatkan perhatian baru pada system resirkulasi dalam budidaya udang skala komersial.
Mungkin yang paling penting jalur kontaminasi patogen adalah masuknya air baru. Patogen dapat berada di air karena adanya inang alami atau dari sumber terkontaminasi. Untuk mengurangi kemungkinan kontaminasi karena masuknya air baru meliputi seleksi lokasi, mengurangi penggunaan air dan men-treatmen air.Untuk mengurangi kontaminasi di sumber air buangan dari kupasan atau kepala udang terinfeksi harus di treat dengan bahan kimia atau di-disinfeksi secara fisik atau lebih baik kalau tidak dibuang ke perairan terbuka. Dianjurkan untuk merebus atau menguburnya,. Pembakaran juga efektif untuk memusnahkan sumber kontaminasi patogen..
Sebagai proteksi dari pertambakan lain, idealnya, buangan dari pertambakan terinfeksi harusnya di treat terlebih dahulu sebelum dilepaskan ke perairan. Pada area dimana patogen ada secara alami, peringatan harus diindahkan sebelum membuang air dari kolam terinfeksi. Kandungan patogen di dalam air dari kolam terinfeksi bisa sangat tinggi karena di kolam terdapat udang dengan densitas tinggi daripada dialam dan bagaimanapun di kolam berpotensi untuk meningkatkan patogen.
Kemungkinan masuknya patogen ke pertambakan dimana sumber airnya terkontaminasi dapat dikurangi dengan mengurangi air yang digunakan untuk pergantian. Kenyataannya, ini tidak bisa berlangsung lama sebelum sisten tidak ganti air menjadi layak, terutama di kolam (Hopkins et al. 1995). Sistem budidaya tidak ganti air akan memecahkan dua masalah penyakit yang besar dalam budidaya, kontaminasi pertambakan dari masuknya air baru dan kontaminasi sumber air dari buangan pertambakan terinfeksi. Disini diperlukan lebih banyak penelitian dan perhatian (Moss, 1998).
Untuk mengurangi kemungkinan masuknya hewan carrier dari masuknya air baru, dapat dilakukan dengan pemasangan filter, saringan, perlakuan kimia atau dipanaskan . Penggunaan air tanah atau memompa air yang dibawah permukaan dapat juga dilakukan untuk tujuan ini. Selain itu semua perlu diperhatikan waktu untuk pergantian air tehadap siklus alami populasi patogen  atau menjadwal waktu pergantian air disesuaikan dengan pertambakan sebelah. Jangan mengganti air bila tambak sebelah yang terinfeksi sedangn membuang air.
Yang paling mudah dilihat dalam kegiatan biosekuriti adalah lalulintas orang, Bagaimanapun, lalulintas orang lebih mudah diimplementasikan dibanding sumber kontaminasi lainnya. Pintu masuk dan pergerakan kendaraan dan orang perlu diperketat dari dan ke pertambakan. Kendaraan musti disanitasi dan dibersihkan. Karyawan jangan dibiarkan untuk mengunjungi pertambakan lain atau tempat pemrosesan tanpa mengganti  pakaian dan didisinfeksi sebelum masuk. Karyawan mesti diperingatkan kalau membawa udang atau produknya, baik untuk dimakan atau untuk umpan pancing di sumber air. Sanitasi meliputi pembersihan dan disinfeksi kolam, gudang pakan, bagunagn, peralatan dan kendaraan.
Disinfektan dibagi menjadi kimia dan pisik. Disinfektan kimia meliputi phenols, quaternary ammonium, chlorine, iodine, fomaldehyde, ozone, asam-asam organik atan basa kuat. Disinfektan pifika yang umum digunakan  antara lain pemanasan, pengeringan dan penyinaran dengan sinar ultra violet (dari lampu ataupun sinar matahari). Panas selalu digunakan untuk mendisinfeksi material. Autoclave mengandung material panas sampai 120EC dengan tekanan 20 – 30 min. Penggunaan autoclave menghasilkan hasil yang bagus tapi memerlukan peralatan khusus dan hanya dapat diaplikasikan pada benda kecil. Merebus lebih murah dibanding autoclave dan lebih efektif tetapi menjadi mahal bila dalam skala besar. Yang lebih murah tetapi tidak efektif adalah pasteurisasi, yaitu memanaskan material pada temperatur antara 60 – 65 EC selama 30 menit. Perlakuan ini akan membunuh beberapa bakteria vegetatif dan virus udang  (LeBlanc and Overstreet,1991a) tetapi tidak membunuh yang lain (Al-Mazrooei, 1995).
Meng-uapi dapat efektif mengurangi tingkat patogen di kendaraan atau peralatan besar sebaik bila digunakan untuk membersihkan gedung dan gudang pakan. Metoda yang sangat efektif untuk memusnahkan mikroorganisme adalah membakar. Dalam pembersihan fasilitas yang terkontaminasi direkomendasikan untuk membakar habis (Bell and Lightner, 1992).
Prosedur disinfeksi yang paling efektif adalah pengeringan. Beberapa bakteri dan virus tidak dapat bertahan dalam kekeringan (LeBlanc and Overstreet, 1991a). Untuk pembersihan fasilitas yang terkontaminasi, pengeringan bangunan dan kolam sangat efektif dalam biaya dan banyak dilakukan (Bell and Lightner, 1992). Direkomendasikan untuk mengeringkan kolam antar crop sebagai prossedur rutin. Sinar UV merupakan disinfektaf efektif bila dikombinasikan dengan pengeringan. Pengeringan dasar kolam dan peralatan lain yang kemudian dijemur langsung disimar matahari adala disinfeksi yang kuat. Sinar UV telah menunjukkan dapat membunuh beberapa virus udang (LeBlanc and Overstreet, 1991 a). Sinar UV sebagai water treatment dapat efektif bahwa air bebas dari partikel. Dalam sistem dimana tidak ada partikel, bagaimanapun, Sinar UV diragukan apakah signifikan mengurang populasi bakteri (Ogle and Lotz, 1992)
Oxidizing disinfektan meliputi chlorine dan iodine. Oksidator lebih efektif melawan virus daripada disinfektan yang mengacaukan membrane sel. Iodine ada dalam bentuk iodophor, suatu kombinasi yang mengandung bahan campuran iodine dan deterjen. Iodine salah satu disinfektan yang sedikit daya racunnya, tetapi segera aktif karena ekses material organik.
Chlorine ada dalam bentuk hypochlorite dan efektif membunuh bakteri dan virus. Efektifitasnya meningkat di air yang hangat tetapi menurun kerena ekses material organik. Dapat menimbulkan iritasi kulit dan merusakkan ligam dan plastik. Meskipun demikian ia relatif tidak mahal dan dapat digunakan untuk disinfeksi air dalam volume yang besar. Chlorine telah ditunjukkan dapat nenidak-aktifkan beberapa viral patogen udang (LeBlanc and Overstreet, 1991b).
Formaldehyde salah satu yang sangat umum digunakan untuk disinfeksi fasilitas budidaya udang. Dikenal denfan Formalin (37 % formaldehyde dalam air) dan 8 % formalin dalam 70 % ethanol sangat efektif mendisinfeksi kebanyakan patogen sulit. Dalam bentuk gas, formaldehyde efektif untuk pengasapan (Bell and Lightner, 1992) dan selalu digunakan untuk sterilisasi bangunan terkontaminasi.
Ozone adalah oksigen monoatomic dan sudah terbukti efektif untuk treatmen limbah untuk mengeliminasi bakteri dan virus. Ianya juga potensial untuk treatmen air dari kolam udang yang perlu didisinfeksi, bagaimanapun efektifitas dari segi biaya perlu dibuktikan.

PATOGEN UDANG DAN DIAGNOSISNYA

            Penyakit infeksi utama yang menyerang udang di belahan dunia seperti dalam tabel 1. Yang penting dalam mencegah perkembangan patogen adalah deteksi dini dan tindakan yang cepat. Idealnya program kerjasama yang melibatkan petambak, ahli kesehatan akuatik, ilmuwan dari universitas, lembaga pemerintah harus dibentuk untuk menjejak patogen penting.
            Tabel 2 adalah daftar metoda diagnostik umum yang ada untuk ahli patologis udang dan profesional manajemen kesehatan. Tabel 3 memberi informasi sebelas patogen paling nyata dalam budidaya udang. Dua bakterial dan sembilan viral

EPIDEMIOLOGY

            Epidemiology adalah studi tentang penularan dan penyebaran penyakit. Suatu waktu  patogen perlu diagnosis dengan tepat, ini memerlukan pemahaman melalui metoda apa patogen ditularkan untuk mencegah memasuki areal pertambakan. Meskipun patogen pada Tabel 3 dipertimbangkan sebagai agen penyakit yang nyata dalam budidaya udang, ianya tidak menimbulkan penyakit yang sama pada semua inang. Kemampuan patogen untuk menimbulkan penyakit dikenal dengan virulensi, kemampuan virulensi yang besar menimbulkan penyakit yang lebih parah. Bagaimanapun, virulensi tidak semata-mata dari karakteristik patogennya, tapi bervariasi dari antar spesies inang. Sebagai contoh penyakit IHHN menyebabkan mortalitas yang tinggi pada Litopenaeus stylirostris tetapi hanya sedang sampai tidak menimbulkan penyakit pada Litopenaeus vannamei. Virulensi juga dipengaruhi oleg genotif dari inang dan patogennya. Sebagai contoh virus white spot yang diisolasi dari USA tetap memperlihatkan kematian yang rendah pada Litopenaeus vannamei dalam kondisi Laboratorium daripada virus yang diisolasi dari Cina (Lotz, Stuck, and Overstreet, tdk.dipublikasikan).  Moss et al. (1998) dan Warren et al. (1997) telah mendemonstrasikan inang yang berbeda secara genetis pada Taura Syndrome virus BP, dan virus IHHNV. Umur inang juga masalah, sebagai contoh, Yellow Head virus menyebabkan penyakit Yellow Head yang berat pada Penaeus monodon juvenil dan dewasa tetapi tidak menunjukkan tanda penyakit pada fase post larva (Lightner et al.,1998).
            Bagaimanapun patut diakui walaupun kategori patogen dapat digunakan sebagai dasar penyeranganya, beberapa kategori tergantung pada interaksi antana inang dan patogen. Untuk keperluan pengendalian penyakit virulensi dikategorikan sebagai berikut; (1). Berat, (2). Sedang dan (3). Ringan sampai tidak ada . Kategori keempat tidak berhubungan dengan  kategori tingkan serangan tetapi penting untuk pencegahan adan kontrol penyakit, harus diidentifikasi- bahwa satu patogen tidak dapat menginfeksi semua inang.
            Metoda penularan sangatlah penting untuk menghilangkan dan mengointrol patogen. Dal;am kasus patogen udang, sebagian besar tidak dapat ditularkan di laboratorium  melalui penyuntikan ekstrak cairan, bagaimanapun ini bukan jalur penularan biasa dalam budidaya. Ada dua metoda umum yang penting dalam patogen udang, yaitu horizontal dan vertical. Penularan horizontal adalah dari satu udang ke udang lainnya, udang yang sehat memakan udang yang terinfeksi atau memakan inang yang terinfeksi tidak diragukan lagi sebagai metoda penularan yang utama. Penularan juga dapat terjadi dengan kontak langsung atau co-habitasi dengan inang terinfeksi, bagaimanapun ini kurang efektif dibandingkan yang pertama. Berikutnya penularan vertikal, adalah penularan dari induk keketurunannya, khususnya melalui telur.

            Peranan inang di reservoir sebagai sumber patogen dapat ,menjadi penting. Dalam beberapa kasus, seperti White spot virus, keberadaan inang yang tidak kalah terinfeksi   tetapi berpotensi  menginfeksi dan dapat menjadi sumber kontaminasi ke kolam. Jalan yang jelas untuk masa depan industri budfidaya udang adalah mengontrol dan melenyapkan patogen. Ini akan memerlukan kerjasama antara publik dan sektor swasta untuk mengembangkan program spesifik patogen free, memajukan penelitian dan pengembangan getis udang, menghasilkan teknologi baru dan majamemen praktis untuk biosekuriti budidaya udang, dan pemahaman yang lebih baik terhadap patogen dan identifikasinya, biologi, epidemiologi, patologi dan kontrolnya. Keuntungan jangka panjang dari pendekatan baru budidaya udang sangat besar dan jangka panjang biaya tidak dartu budidaya udang dengan cara baru sama-sama besar.

KUALITAS AIR DALAM DUNIA AQUACULTURE

KUALITAS AIR DALAM DUNIA AQUACULTURE
D
 
 


alam dunia aquaculture, kualitas air merupakan syarat untuk berhasil dalam operasi budidaya.
 Kontrol yang tepat terhadap lingkungan perairandan kualitas air sangat diperlukan untuk menjaga kondisi yang optimal dalam hal kesehatan dan pertumbuhan hewan air yang dipelihara. Di dalam ekosistem,banyak perameter kualitas air saling berinteraksi dan berpengaruh satu sama lain, kadang-kadang terjadi sangat kompleks. Parameter-parameter tersebut yang sangat kritis adalah oksigen terlarut (DO),    temperatur, pH, amonia, nitrit, total dissolved solids, alkalinitas, karbon dioksida (CO2), dan total dissolved solid / total bahan padat terlarut (TDS). Banyak parameter yang menyebabkan masalah dan diperlukan pengecekan secara periodik/ berkala. Limit/ batas yang tepat untuk tiap-tiap parameter, tergantung pada spesies/ jenis dan system yang dirancang untuk dipelihara.
           
            Dissolved Oxygen (DO) atau oksigen terlarut adalah parameter yang paling berpengaruh terhadap kesehatan udang dan hewan lainnya dan secara prinsip harus di cek secara terus menerus. DO pada batas bawah dapat menyebabkan beberapa pengaruh fisiologis dan dapat menyebabkan kematian pada level /batas sangat rendah.
            Temperatur / suhu adalah parameter penting selain oksigen terlarut, yang dapat membentuk kondisi lingkungan yang optimum untuk kehidupan udang dan hewan air lainnya. Nafsu makan udang yang lebih baik, pertumbuhan yang lebih cepat, reproduksi  yang lebih cepat dan kondisi umum yang lebih menyehatkan  akan dapat dijangkau bila suhu yang tepat terjaga  dengan baik.   Apabila suhu diluar ukuran optimal atau suhu terlalu rendah dan terlalu tinggi akan dapat menyebabkan masalah dalam budidaya bahkan dapat menyebabkan kematian.

            pH  adalah kualitas air yang menunjukkan tingkat keasaman atau basa suatu perairan. Secara kimia pH didefinisikan sebagai negatif logaritma dari konsentrasi ion hidrogen. Air dengan pH 7.0  dikatakan netral (tidak asam dan tidak basa) pada suatu perairan. Jika pH dibawah 7.0 dikatakan asam dan pH diatas 7.0 dikatakan basa (bersifat alkali). pH optimum untuk kehidupan udang Penaeus monodon adalah 7,5 – 8,5.  Air laut  yang memiliki kapasitas buffer yang lebih besar biasanya pH selalu stabil. Namun di kolam budidaya (menggunakan air laut) masih sering terjadi pH yang terlalu fluktuatif. Ini disebabkan oleh tingginya inputan bahan organik dan fluktuatifnya plankton yang tumbuh di air kolam. Pada nilai pH yang terlalu ekstrim dapat membahayakan dan mematikan udang, selain itu juga mempengaruhi beberapa parameter lingkungan air budidaya. Diantaranya pH dapat berpengaruh pada tingkat racun amonia, nitrit dan hidrogen sulfat. Sedangkan perairan yang banyak terdapat logam seperti tembaga, alumunium dan seng adalah merupakan fungsi pH.

            Kandungan Nitrogen berperan penting dalam system aquaculture termasuk amonia, nitrit dan nitrat. Nitrogen adalah nutrien essensial yang diperlukan untuk kehidupan seluruh organisme, namun jumlah yang dibutuhkan agak kecil. Biasanya masalah yang timbul adalah kandungan nitrogen yang berlebihan. Nitrogen tidak hanya dari pembuangan (kotoran) udang atau hewan air lainnya, tetapi juga dihasilkan dari berbagai bahan organik yang membusuk di air dan sumbangan dari bahan-bahan yang mengandung nitrogen.  Gas nitrogen di atmosfeer juga dapat larut ke dalam air (absorbsi). Amonia dapat terjadi dalam dua bentuk, yaitu Un-ion amonia (NH3) dan Un-ion amonium (NH4+). Un-Ion amonia adalah bentuk yang lebih racun dari Un-ion amonium, dan konsentrasinya dipengaruhi oleh pH, suhu dan total partikel tersuspensi. Dalam proses nitrifikasi, amonia dirubah menjadi nitrit kemudian menjadi nitrat. Nitrit adalah racun karena dapat bercampur dalam darah. Monitor dan kontrol yang tepat adalah hal sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan udang atau organisme air lainnya.

            Total dissolved solid (TDS atau bahan-bahan padat terlarut). Karena kebanyakan bahan yang  terlarut adalah garam (sodium chloride), TDS sering disebut “salinitas,”. Berdasarkan garam ada tiga golongan air, yaitu air asin, air payau dan air tawar. Setiap organisme air memiliki batasan salinitas optimum untuk mencapai pertumbuhan yang paling baik. Pada udang salinitas yang optimum yaitu salinitas 15 hingga 30 ppt.

            Alkalinitas ditandai oleh  kemampuan buffer atau kemampuan untuk menetralkan asam dalam air. Alkalinitas dapat muncul dari berbagai larutan, tapi secara umum alkalinitas diperairan tergantung oleh  karbonat dan bikarbonat. Besarnya alkalinitas dapat ditentukan oleh titrasi sederhana dengan menggunakan larutan asam sulfur. Alkalinitas di perairan terikat lansung dengan CO2  dan pH. Ketiga unsur tersebut (Alkalinitas, CO2  dan pH) harus dijaga / kontrol setiap hari dalam budidaya udang. Jika Alkalinitas rendah dapat menyebabkan flukutasi pH pagi dan sore terlalu tinggi. Hewan yang dipelihara seperti udang akan mengalami stress dan bahkan mortaliti.

            Karbon dioksida (CO2 ) adalah suatu bagian dari system aquaculture yang berasal dari respirasi dan dekomposisi bahan organik di dalam kolam. Sebagian kecil CO2  berasal dari atmosfir. Kelebihan Karbon dioksda dapat mengurangi kemampuan hewan air yang dipelihara dikolam (udang dan ikan) dalam menggunakan oksigen dan selanjutnya system pernafasan akan terganggu.

            Total suspended solid (TSS atau bahan padat tersuspensi). Adalah merupakan bahan-bahan tersuspensi seperti kotoran udang, bakteria, alga dan sisa pakan yang tidak termakan. Tingginya suspendid solid (TSS) dapat mempengaruhi kesehatan udang dengan rusaknya insang udang. Besarnya TSS sebaiknya secara rutin dijaga agar dibawah batas tertentu hingga tidak mengganggu  kesehatan udang.

AMONIA DI TAMBAK

AMONIA DI TAMBAK 




A
monia adalah produk akhir yang besar dari penguraian protein pada ikan. Ikan akan menguraikan protein yang ada di dalam pakan dan mengekresikan lewat insang dan kotorannya. Banyaknya amonia yang di exkresikan oleh ikan tergantung pada input pakan yang diberikan di dalam sistem budidayanya, penambahannya seperti penambahan feeding rate. Amonia masuk ke dalam tambak juga dari dekomposisi material organik oleh bakteri seperti sisa pakan atau algae dan tanaman air lain yang mati.

Bentuk dan Tingkat Racun

Total Amonia Nitogen (TAN) adalah merupakan toxic (un-ionized)  amonia (NH3) dan nontoxic (ionized) amonia (NH+4). Hanya satu bagian saja dari TAN sebagai amonia toxic (un-ionized), dan bagian yang lain merupakan keseimbangan antara toxic (un-ionized) dan nontoxic (ionized).

H+  +   (NH3        (NH+4)

Proporsi dari TAN dalam bentuk racun akan bertambah seiring dengan meningkatnya temperatur dan pH perairan. Untuk setiap kenaikan pH per unit, akan menambah kenaikan amonia toxic un-ionized 10 kali. Besarnya amonia toxic un-ionized di dalam tambak dapat ditentukan dengan pengukuran TAN dengan Test Kit Kualitas Air, kemudian dilihat pemisahan dari TAN yang bersifat toxic itu dengan Tabel 1, yang berdasar pada Temperatur & pH air. Pengalian dari Pemisahan TAN ini di dapat nilai konsentrasi (mg/L atau ppm) dari amonia toxic un-ionized yang mewakili keadaan di dalam air. Sebagai contoh, jika pH air 8.6, temperatur air 30oC dan nilai TAN 3 mg/L (ppm), faktor pengalinya 0.2422 (dari tabel 1.) dengan 3 mg/L (ppm) menghasilkan nilai 0.73 mg/L (ppm) amonia toxic un-ionized.

Proses asimilasi (uptake) amonia oleh plankton algae sangatlah penting dalam menurunkan jumlah amonia yang dihasilkan ikan. Jumlah amonia akan bertambah dalam musim gugur dan dingin sebab populasi algae berkurang di tambak karena kemampuan untuk menyerap amonia tidak mencukupi. Temperatur yang rendah akan memperlambat proses aktivitas bakteri aerobik, sehingga memperlambat proses nitrifikasi untuk amonia yang dikonversikan ke dalam nitrat yang tidak berbahaya (Gb.1). Algae yang mati juga menjadi konsentrasi amonia yang sangat tinggi, tetapi, untungnya pH rendah dan hilangnya algae menurunkan proporsi amonia toxic un-ionized.

Bahaya dari amonia toxic un-ionized adalah dalam waktu yang singkat dapat membunuh ikan dalam sedikit hari, yaitu pada level mulai 0.6 mg/L (ppm). Akibat kronis dari amonia toxic un-ionized pada level 0.06 mg/L (ppm) dapat menyebabkan insang & ginjal rusak, lambat pertumbuhan, dan mungkin malfungsi otak, serta penurunan carrying capasity oxygen dari ikan.

Perlakuan - perlakuan

Perlakuan untuk konsentrasi TAN yang tinggi sulit dilakukan pada sistem budidaya skala besar. Penambahan air dengan pemompaan sangat tidak praktis atau ekonomis dilakukan untuk menurunkan amonia pada semua tambak. Tetapi harus disediakan sedikit area air yang mengalir untuk memberikan kesempakan ikan untuk bernafas lega. Mempertahankan DO tinggi dengan aerasi akan menurunkan daya racun dari amonia toxic un-ionized. Kandungan TAN juga bisa diturunkan dengan naiknya aktivitas bakteri aerobik sampai batas oksigen level. Menurunkan Feeding Rate sementara waktu direkomendasikan sampai level TAN menurun pada level yang dapat diterima.

Menjaga tinggi TAN adalah cara yang lebih baik untuk menghindari masalah. Penggunaan feeding rate rendah dan feeding yang baik dapat menjaga level TAN tetap rendah. Problem konsentrasi TAN tinggi dapat terjadi jika feeding rate melebihi 100 pounds per acre per hari, atau jika limbah kotoran karena kelebihan pakan terjadi. Konsumsi pakan ikan tidak boleh lebih (overfeed) dan di pastikan bahwa pakan benar-benar dikonsumsi oleh ikan. Keduanya ini adalah praktek ekonomi yang penting, semenjak pakan merupakan faktor terbesar di dalam biaya produksi.

Dengan tambak dan bak penampungan yang terus menerus bertambah, seringkali tidak mempertimbangkan faktor ekonomi untuk menurunkan feeding rate, sehingga bahan organik yang terdapat di dalam sistem merupakan faktor yang besar dan perlu dipikirkan. Sistem Resirkulasi Intensif merupakan sistem yang baik untuk menangani akibat dari besarnya nitrogen yang di timbulkan dari feeding rate yang tinggi, tetapi kebanyakan sistem pada tambak sangat terbatas dalam menangani tingginya nitrogen dan bahan organik. Kecuali jika managemen yang effisien dikembangkan, nitrogen  dan bahan organik menjadi faktor pembatas dalam penebaran dan production rate dalam berbudidaya tambak.



Tabel 1.  Amonia Toxic (un-ionized) di dalam air pada perbedaan nilai pH dan temperatur. Dihitung dari data (Emerson, et al; 1975). Untuk menentukan besarnya amonia toxic un-ionized, dilihat dari nilai tabel ini kemudian dikalikan dengan Total Amonia Nitrogen (TAN) dari sampel dan dinyatakan dalam ppm (mg/L) amonia toxic un-ionized.
Temperatur (oC)
pH
6
8
10
12
14
16
18
20
22
24
26
28
30
7.0
.0013
.0016
.0018
.0022
.0025
.0029
.0034
.0039
.0046
.0046
.0060
.0069
.0080
7.2
.0021
.0025
.0029
.0034
.0040
.0046
.0054
.0062
.0072
.0072
.0096
.0110
.0126
7.4
.0034
.0040
.0046
.0054
.0063
.0073
.0085
.0098
.0114
.0114
.0150
.0173
.0198
7.6
.0053
.0063
.0073
.0086
.0100
.0116
.0134
.0155
.0179
.0179
.0236
.0271
.0310
7.8
.0084
.0099
.0116
.0135
.0157
.0182
.0211
.0244
.0281
.0281
.0370
.0423
.0482
8.0
.0133
.0156
.0182
.0212
.0247
.0286
.0330
.0381
.0438
.0438
.0574
.0654
.0743
8.2
.0210
.0245
.0286
.0332
.0385
.0445
.0514
.0590
.0676
.0676
.0880
.0998
.1129
8.4
.0328
.0383
.0445
.0517
.0597
.0688
.0790
.0904
.1031
.1031
.1326
.1495
.1678
8.6
.0510
.0593
.0688
.0795
.0914
.1048
.1197
.1361
.1541
.1541
.1950
.2178
.2422
8.8
.0785
.0909
.1048
.1204
.1376
.1566
.1773
.1998
.2241
.2241
.2774
.3062
.3362
9.0
.1190
.1368
.1565
.1782
.2018
.2273
.2546
.2836
.3140
.3140
.3783
.4116
.4453
9.2
.1763
.2008
.2273
.2558
.2861
.3180
.3512
.3855
.4204
.4204
.4909
.5258
.5599
9.4
.2533
.2847
.3180
.3526
.3884
.4249
.4618
.4985
.5348
.5348
.6045
.6373
.6685
9.6
.3496
.3868
.4249
.4633
.5016
.5394
.5762
.6117
.6456
.6456
.7078
.7358
.7617
9.8
.4600
.5000
.5394
.5778
.6147
.6499
.6831
.7140
.7428
.7428
.7933
.8153
.8351
10.0
.5745
.6131
.6498
.6844
.7166
.7463
.7735
.7983
.8207
.8207
.8588
.8749
.8892
10.2
.6815
.7152
.7463
.7746
.8003
.8234
.8234
.8625
.8788
.8788
.9060
.9173
.9271
Sumber: Emerson, K, R.C. Russo, R.E. Lund dan R.V. Thurston. 1975. Aqueous ammonia equilibrium calculations: effect of pH and temperature. Journal of the Fisheries Research Board of Canada. 32:2379-2383

The work reported in this publication was supported in part by the Southern Regional Aquaculture Center through Grant No. 94-38500-0045 from the United States Departement of Agriculture, Cooperative State Research, Education, and Extension Service.