Jumat, 20 November 2015

KUALITAS AIR DALAM DUNIA AQUACULTURE

KUALITAS AIR DALAM DUNIA AQUACULTURE
D
 
 


alam dunia aquaculture, kualitas air merupakan syarat untuk berhasil dalam operasi budidaya.
 Kontrol yang tepat terhadap lingkungan perairandan kualitas air sangat diperlukan untuk menjaga kondisi yang optimal dalam hal kesehatan dan pertumbuhan hewan air yang dipelihara. Di dalam ekosistem,banyak perameter kualitas air saling berinteraksi dan berpengaruh satu sama lain, kadang-kadang terjadi sangat kompleks. Parameter-parameter tersebut yang sangat kritis adalah oksigen terlarut (DO),    temperatur, pH, amonia, nitrit, total dissolved solids, alkalinitas, karbon dioksida (CO2), dan total dissolved solid / total bahan padat terlarut (TDS). Banyak parameter yang menyebabkan masalah dan diperlukan pengecekan secara periodik/ berkala. Limit/ batas yang tepat untuk tiap-tiap parameter, tergantung pada spesies/ jenis dan system yang dirancang untuk dipelihara.
           
            Dissolved Oxygen (DO) atau oksigen terlarut adalah parameter yang paling berpengaruh terhadap kesehatan udang dan hewan lainnya dan secara prinsip harus di cek secara terus menerus. DO pada batas bawah dapat menyebabkan beberapa pengaruh fisiologis dan dapat menyebabkan kematian pada level /batas sangat rendah.
            Temperatur / suhu adalah parameter penting selain oksigen terlarut, yang dapat membentuk kondisi lingkungan yang optimum untuk kehidupan udang dan hewan air lainnya. Nafsu makan udang yang lebih baik, pertumbuhan yang lebih cepat, reproduksi  yang lebih cepat dan kondisi umum yang lebih menyehatkan  akan dapat dijangkau bila suhu yang tepat terjaga  dengan baik.   Apabila suhu diluar ukuran optimal atau suhu terlalu rendah dan terlalu tinggi akan dapat menyebabkan masalah dalam budidaya bahkan dapat menyebabkan kematian.

            pH  adalah kualitas air yang menunjukkan tingkat keasaman atau basa suatu perairan. Secara kimia pH didefinisikan sebagai negatif logaritma dari konsentrasi ion hidrogen. Air dengan pH 7.0  dikatakan netral (tidak asam dan tidak basa) pada suatu perairan. Jika pH dibawah 7.0 dikatakan asam dan pH diatas 7.0 dikatakan basa (bersifat alkali). pH optimum untuk kehidupan udang Penaeus monodon adalah 7,5 – 8,5.  Air laut  yang memiliki kapasitas buffer yang lebih besar biasanya pH selalu stabil. Namun di kolam budidaya (menggunakan air laut) masih sering terjadi pH yang terlalu fluktuatif. Ini disebabkan oleh tingginya inputan bahan organik dan fluktuatifnya plankton yang tumbuh di air kolam. Pada nilai pH yang terlalu ekstrim dapat membahayakan dan mematikan udang, selain itu juga mempengaruhi beberapa parameter lingkungan air budidaya. Diantaranya pH dapat berpengaruh pada tingkat racun amonia, nitrit dan hidrogen sulfat. Sedangkan perairan yang banyak terdapat logam seperti tembaga, alumunium dan seng adalah merupakan fungsi pH.

            Kandungan Nitrogen berperan penting dalam system aquaculture termasuk amonia, nitrit dan nitrat. Nitrogen adalah nutrien essensial yang diperlukan untuk kehidupan seluruh organisme, namun jumlah yang dibutuhkan agak kecil. Biasanya masalah yang timbul adalah kandungan nitrogen yang berlebihan. Nitrogen tidak hanya dari pembuangan (kotoran) udang atau hewan air lainnya, tetapi juga dihasilkan dari berbagai bahan organik yang membusuk di air dan sumbangan dari bahan-bahan yang mengandung nitrogen.  Gas nitrogen di atmosfeer juga dapat larut ke dalam air (absorbsi). Amonia dapat terjadi dalam dua bentuk, yaitu Un-ion amonia (NH3) dan Un-ion amonium (NH4+). Un-Ion amonia adalah bentuk yang lebih racun dari Un-ion amonium, dan konsentrasinya dipengaruhi oleh pH, suhu dan total partikel tersuspensi. Dalam proses nitrifikasi, amonia dirubah menjadi nitrit kemudian menjadi nitrat. Nitrit adalah racun karena dapat bercampur dalam darah. Monitor dan kontrol yang tepat adalah hal sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan udang atau organisme air lainnya.

            Total dissolved solid (TDS atau bahan-bahan padat terlarut). Karena kebanyakan bahan yang  terlarut adalah garam (sodium chloride), TDS sering disebut “salinitas,”. Berdasarkan garam ada tiga golongan air, yaitu air asin, air payau dan air tawar. Setiap organisme air memiliki batasan salinitas optimum untuk mencapai pertumbuhan yang paling baik. Pada udang salinitas yang optimum yaitu salinitas 15 hingga 30 ppt.

            Alkalinitas ditandai oleh  kemampuan buffer atau kemampuan untuk menetralkan asam dalam air. Alkalinitas dapat muncul dari berbagai larutan, tapi secara umum alkalinitas diperairan tergantung oleh  karbonat dan bikarbonat. Besarnya alkalinitas dapat ditentukan oleh titrasi sederhana dengan menggunakan larutan asam sulfur. Alkalinitas di perairan terikat lansung dengan CO2  dan pH. Ketiga unsur tersebut (Alkalinitas, CO2  dan pH) harus dijaga / kontrol setiap hari dalam budidaya udang. Jika Alkalinitas rendah dapat menyebabkan flukutasi pH pagi dan sore terlalu tinggi. Hewan yang dipelihara seperti udang akan mengalami stress dan bahkan mortaliti.

            Karbon dioksida (CO2 ) adalah suatu bagian dari system aquaculture yang berasal dari respirasi dan dekomposisi bahan organik di dalam kolam. Sebagian kecil CO2  berasal dari atmosfir. Kelebihan Karbon dioksda dapat mengurangi kemampuan hewan air yang dipelihara dikolam (udang dan ikan) dalam menggunakan oksigen dan selanjutnya system pernafasan akan terganggu.

            Total suspended solid (TSS atau bahan padat tersuspensi). Adalah merupakan bahan-bahan tersuspensi seperti kotoran udang, bakteria, alga dan sisa pakan yang tidak termakan. Tingginya suspendid solid (TSS) dapat mempengaruhi kesehatan udang dengan rusaknya insang udang. Besarnya TSS sebaiknya secara rutin dijaga agar dibawah batas tertentu hingga tidak mengganggu  kesehatan udang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar